Is It To Late To Say I’m Sorry?? #flashfiction

“Damn!!” reflek kuarahkan tinju ku pada tembok.

“Goblok!” maki ku pada diri sendiri.

Saat ini cuma kata-kata kasar yang bisa terlontar dari mulut ku. Diriku dikuasi oleh amarah. Marah pada diri ku sendiri.

“Shit!!! Ahhh apa yang harus aku lakukan sekarang?”

Pikiran ku melayang pada kejadian siang tadi. Rasanya siang terbodoh yang dalam hidup ku. Semua gara-gara mahasiswi baru itu. Seandainya aku ga sekelas sama dia. Seandainya aku ga terpesona sama kecantikan nya. Seandainya aku ga tertantang oleh taruhan kalau aku bisa deketin dia. Semua ini ga akan terjadi.

Atau karena aku nya aja kelewat goblok. Terlalu terburu-buru. Mungkin kalau aku lebih berhati-hati semua ini ga perlu terjadi.

Atau emang ini apes namanya?

Ah apa pun itu, yang jelas gara-gara akhirnya aku mencoba deketin si mahasiswi baru itu akhirnya aku putus. JOMBLO. Mana aku tahu kalau ternyata mahasiswi baru itu temannya Dini.

***
Air mata ini belum bisa berhenti menetes dari siang tadi. Entah udah berapa banyak tisu kuhabiskan.
“Remon, kenapa kamu jahat sih? Kenapa kamu tega nyakitin aku.”
Bayangan Remon lagi ngedeketin Fira tadi siang terus bermain di kepala aku. Udah kaya kesamber petir di siang bolong rasanya. Harusnya siang tadi adalah hari yang menyenangkan. Akhirnya aku akan ketemu Fira lagi setelah sekian lama pisah kota. Fira, sahabat dari aku kecil yang terpaksa berpisah ketika masuk SMA. Kemarin itu aku senang sekali nerima kabar dari Fira kalau dia kembali ke kota ini dan ada di kampus yang sama dengan ku. Betapa kaget nya aku ketika aku mendapati Fira lagi bersama Remon. Remon aku.
***
“Din, aku mohon kamu dengerin aku dulu ya. Kasih aku waktu buat jelasin kejadian kemarin. Please, Din.”
Aku cuma bisa diam. Ga nyangka pagi-pagi Remon udah ada di depan rumah. Padahal aku tahu Remon bukanlah mahluk pagi.
“Aku tahu aku salah. Aku tahu mungkin udah terlambat. Tapi aku ga tenang kalau aku belum bilang maaf ke kamu. Maafin aku ya, Din. Aku sayang banget sama kamu. Aku ga bermaksud nyakitin kamu.”
Aku masih terpaku. Diam di tempat. Seolah tak bisa bergerak. Aku tak tahu harus mengatakan apa. Aku bingung.  Aku masih merasa sakit.
“Ya udah kalau kamu ga mau maafin aku. Ga pa-pa kok. Aku tahu aku yang salah. Maaf udah ganggu kamu pagi-pagi gini. I still love you, Din.”
Reno membalikan badannya. Segera beranjak pergi. Tiba-tiba kaki ku serasa gerak sendiri. Berlari ringan menghampiri Reno.
“Ren, tunggu…Belum terlambat kok. I still love you, too…”
*** flash fiction ini diilhami oleh lagu Belum Terlambat – Restina***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s