Kenangan Riska

Polusi dari asap knalpot sudah menjadi sahabat keseharian ku. Ku usap keringat yang mengucur di dahi. Suhu Jakarta sore ini cukup terik. Rasanya aku butuh minuman dingin dulu sebelum melanjutkan kembali menuju perjalanan pulang.

Ku langkahkan kaki menuju warung terdekat. Suasana warung cukup ramai. Namanya juga jam pulang kantor di terminal.

“Riska….”

Aku menoleh ke asal suara. Tampak remaja-remaja berseragam putih abu-abu lagi asik bercanda ria.

Ah nama itu, bisik ku dalam hati. Nama yang melontarkan aku ke masa lalu. Masa dimana aku pun masih berseragam putih abu-abu.

***
Nama gadis itu Riska. Sosok gadis hitam manis yang selalu ceria. Selalu hadir setiap kali aku tengah berlatih basket. Berdiri di pinggir lapangan, sesekali meneriaki nama ku memberi semangat. Kala istirahat dia pasti menghampiri dan membawakan ku minuman dingin. Penghilang lelah, begitu dia selalu menyebutnya sambil menyodorkan minuman itu. Senyumannya selalu tersungging di raut wajahnya. Ga peduli akan reaksi ku yang selalu ketus padanya.
“Wo, lo tuh kenapa sih selalu judes sama Riska. Dia tuh udah jelas naksir lo tau,” tegur salah seorang teman di tim basket ku.
“Alaaahhh, ga suka gw. Tukang cari perhatian.” Selalu itu jawab ku.
Sampai pada suatu saat aku mulai menyadari udah beberapa hari sosok Riska ga ada lagi di pinggir lapangan. Satu hari… Dua hari… Satu minggu…  Aku pun mulai menanyakan keberadaannya.
“Tuh kan lo nyari juga. Lagi ada aja lo judesin, ga ada lo cari.”
“Berisik ah. Jadi si Riska kemana?”
“Mana gw tau, coba lo tanya ke anak sekelasnya deh.”
Berbekal rasa penasaran akhirnya aku mencari tahu juga keberadaan Riska. Dari teman sekelasnya aku tahu kalo Riska emang ga masuk sekolah. Kasak kusuk akhirnya aku bertanya pada sahabatnya. Dia mengantarkan aku ke rumah nya.
“Oh, ini toh yang namanya Dewo. Maaf Tante blom sempet mampir ke sekolah. Ini ada surat titipan dari Riska buat Dewo.”
Dari mamanya aku baru tahu kalo ternyata Riska pindah sekolah ke luar negri ikut papanya. Dan Riska menitipkan surat buat aku.
Dewo,
Ma’kasih ya udah bikin hari-hari terakhir gw di sekolah jadi semangat. Gw tau lo keganggu sama kehadiran gw. Tapi gw seneng banget liat lo lagi main basket. Semoga suatu saat kita masih bisa ketemu lagi ya.
Rieska
***
Sejak hari itu sampai sekarang akumasih blom pernah ketemu lagi sama Riska. Padahal aku pengen bilang kalau aku rindu. Aku rindu akan teriakan nya yang selalu bikin aku semangat. Semoga masih ada kesempatan untuk bertemu lagi.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s