Socmed Story – Ku Dapatkan Jodoh ku Via ICQ

“Aku udah sampai di penginapan ya.” Ku kirimkan sms itu begitu akhirnya aku bisa merebahkan diri ke atas kasur. Beberapa hari terakhir ini rasanya badan kurang istrirahat.

Tinggal satu hari lagi, kata ku dalam hati. Ya, satu hari yang akan menjadi lembaran baru bagi kehidupanku. Tanpa sadar senyum lebar mengembang di muka ku.

“Aku lapar. Ada makanan ga?” tiba-tiba aku mendapatkan balasan sms tadi. Akumemandang berkeliling, mana ada makanan di kamar ku. Yang ada cuma ketiga sahabatku, para calon pendamping pengantin yang udah pada tertidur lelap setelah mengikuti serangkaian upacara adat menjelang pernikahan ku esok.

Kupaksakan diri ku bangun dari empuknya kasur menuju kamar sebelah, tempat sepupuku dan adik ku bermalam. Disana pasti ada makanan, pikir ku. Dan benar saja, begitu aku tanya, sepupu ku memberikan nasi kotak yang sebagian isi nya udah dimakan adik ku.

“Biar deh, daripada ga ada”, kataku dalam hati.

Ku angkat telepon genggam mencoba menghubungi pria yang kelaparan itu. “Kamu dimana? Temuin aku di lobi ya. Ini ada nasi kotak sisa Nina.”

***

Ga sampai 15 menit pria itu muncul. Tampak jelas di mata nya kalau dia pun udah lelah.

Ah, lagi capek aja dia masih tampak cool, pikir ku dalam hati.

“Ini,” aku menyerahkan kotak nasi padanya.

Dia membuka nya sambil kemudian komentar “Kaya nasi sisa kucing gini berantakannya.”

“Udah makan aja. Cuma nemu itu soalnya. Maaf ya.”

Kala kuperhatikan pria yang akan menjadi suami ku ini melahap makanannya. Rasanya masih ga percaya kalau sebentar lagi kami akan meningkatkan hubungan kami ke jenjang rumah tangga. Rasanya baru kemarin kani berkenalan. Pikiran ku pun dibawa mundur pada saat awal-awal perkenalan kami.

***

“Mba senang chatting ya, ini saya installin ICQ biar ga cuma chatting di mIRC,” begitu penjelasan petugas provider internet yang datang ke rumah ku sore itu.

Asik, akhirnya bisa chatting lagi, seru ku dalam hati. Setelah beberapa hari mengalami gangguan internet nanti malam bisa seru-seruan di chatting room lagi. Eh apa tadi kata mas nya, ICQ? Apaan ya itu? Nanti coba juga ah.

***

Setelah beberapa hari berlalu, aku pun mulai terbiasa chatting di ICQ. Punya teman-teman baru di dunia maya. Malam itu malam minggu, aku bisa chatting tanpa harus mengendap-ngendap kaya di malam sekolah. Seperti biasa aku memilih chatting di atas jam 10 malam. Ga tau kenapa, semakin malam chatting room itu semakin rame dan seru rasanya.

Tinut tinut tinuuut….suara yang keluar dari modem menandakan sudah tersambung ke internet. Aku langsung membuka mIRC dan ICQ.

“Hai, baru online?” sapa Metra begitu lambang bunga di ICQ ku berubah warna menjadi hijau.

“Iya, biasa. Nunggu yang lain tidur dulu baru bisa online.”

Dan mengalirlah percakapan-percakapan ngalor ngidul seperti biasanya. Mulai dari bahas soal trend musik sampai apa pun yang terlintas dibahas.

“Eh aku off dulu ya. Mau tidur,” ketik ku ketika melihat jarum jam sudah lewat dari jam 3 pagi.

“Boleh nelp ga?”

“Boleh aja. Aku off dulu ya biar bisa telepon masuk. Bye.” Aku pun langsung mematikan koneksi internet. Emang tadi itu Metra sempet minta no telepon. Ga lama terdengar bunyi telepon. Langsung aku angkat, dan itulah pertama kali aku memdengar suaranya.

Semenjak itu ngobrol di telepon menjadi ritual sehari-hari selain chatting. Aku pun perlahan jadi tahu lebih banyak soal Metra. Bahwa di Jakarta ini karena kerjaan.

Internetan pun dari kantor yang kebetulan kerja nya lebih sering shift malam. Selisih usia kami 3 tahun. Dia baru lulus dari STM dan aku masih berseragam putih abu-abu.

“Ketemuan yuk, besok bisa ga?” celetuk Metra di telepon. Aku bengong sesaat. Bukan apa-apa, soalnya diantara temen-temen chatting ku emang sama Metra ini aku blom pernah kopi darat. Bukannya aku ga pernah coba ngajak, tapi setiap aku ajak pasti dia ga bisa. Sekarang tumben dia ngajak.

“Besok ayo, kan pas hari minggu aku libur. Dimana?”

Metra pun menyebutkan nama sebuah Mall yang ga jauh dari kantor nya. Oh itu rupanya kenapa kmaren-kmaren menolak ajakan ku. Karena baru di Jakarta dia cuma tahu yang deket-deket kantor nya aja.

“Aku pake dress abu-abu yaaa. Kita ketemuan di depan bioskop,” kata ku.

“Ok, aku pake kemeja putih dan celana jeans. Bioskop nya sebelah mana?”

“Lantai paling atas,” jawab ku ngasal. Aku juga lupa persis nya. Tapi biasanya bioskop itu di lantai paling atas kan ya?

***

Minggu siang aku udah nungguin di depan bioskop, yang ternyata bukan lantai paling atas. Karena lantai paling atas merupakan bengkel mobil. Barusan Metra sempat menghubungi ke handphone ku kalau datang telat karena hujan di luar. Mata ku berusaha menangkap tiap orang yang mendekat. Mencari-cari sosok Metra.

Agak lama menunggu, aku melihat ke arah eskalator yang tak jauh dari tempat aku berdiri, sempat kutangkap sosok pria yang setengah terburu-buru turun ke lantai tempat aku berada. Berkemeja putih dengan lengan digukung sampai siku, dan bercelana jeans.

Mungkinkah itu dia? Aku bertanya-tanya.

Langkah pria itu melambat kala dia turun dari eskalator. Berjalan perlahan mendekat ke arah ku. Dan ketika mata kami bertemu mulutnya membentuk sebuah pertanyaan “Dian ya?” Aku pun reflek mengangguk.

***

“Kok ngelamun? Udah abis nih makanannya. Tidur yuk, biar besok seger.”

Aku kembali ke masa kini. Melihat sosok pria yang akan menjadi suami ku besok. Pria yang sama yang aku temui sekitar empat tahun yang lalu.

Aku tersenyum. “Aku keinget awal kenalan kita. Lucu aja rasanya, kok bisa ya dari chatting tau-tau mau nikah gini. Niat nyari pacar aja engga waktu itu. Hihihi… Yuk istirahat. Sampai ketemu besok, calon suami ku.”

Submitted By : Dian Ravi – @DianRavi

*** Tulisan ini dalam rangka untuk Socmed Story, silahkan mampir ke http://socmedstory.us/  untuk baca kisah-kisah Socmed Story lainnya***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s