Review: Tjikini, Feel The Ambience, and I don’t Want To Go Home

Hari sabtu kmaren adalah saat nya aku dan mas Met berwira-wiri. Kemana? Kami mencoba peruntungan ke Pasar Kenari demi sebuah ceiling fan yang kami idam-idamkan 🙂 Berangkat dari rumah udah agak siang, dan rupanya long weekend ga membuat Pasar Kenarri sepi. Tapi alhamdulillah kami dipermudah mendapatkan parkiran.

Shopping time!

Ini pertama kalinya mas Metra masuk ke Pasar Kenari. Aku sendiri udah pernah beberapa tahun yang lalu, tapi bukan buat belanja, melainkan janjian dengan seorang kawan. Jadi yang terjadi saat kami melangkah masuk ke pertokoan kemarin itu adalah: AMAZED. Itu lampu-lampu banyak banget yah. Mesti mulai dari mana. Untuk beberapa saat kami cuma putar-putar ga tentu arah. Sampai akhirnya kami mendapatkan sebuah petunjuk: cari toko kipas angin 😀

Singkat cerita akhirnya kami menemukan toko yang menjual kipas-lampu idaman kami. Tapi sayang, stock nya kosong dari supplier nya dan mungkin baru ada sekitar 2 bulan lagi 😦 Blom jodoh. Ya sudah, berputar-putar lagi sebelum pulang, nanggung udah nyampe disini.

And you know what? Aku malah akhirnya mendapatkan slow cooker idaman aku!!! Yeayyyy!!

Keluar dari Pasar Kenari, tujuan berikutnya adalah ke Gunung Agung Kwitang. Udah 8 tahun aku ga pernah ke toko buku itu. I used to love that book store. Karena seingat aku disana lumayan komplit keperluan art and craft. Kebetulan yang lagi “ngidam” rottery cutter. Ceritanya biar semakin mudah motong-motong kain.

Lagi celingak-celinguk di toko buku, mas Met mengeluh kelaparan. Ya sudah, mari kita mencari makan.

Awalnya aku pun ga ada ide mau ngajak makan apa dan dimana. Ini nih efek kalo kelamaan mengurung diri di rumah. Ga update tempat-tempat makan.

But then, I remember Tjikini 🙂 Pas banget sama suasana hati yang lagi rindu sama susana vintage dari minggu lalu. Dan lagi-lagi parkirannya pun dipermudah.

image

Kalau biasanya aku nemuin suasana vintage dengan menu ala Belanda, di Tjikini ini suasana yang ditawarkan adalah Batavia tempo dulu. Sederhana, tapi nyaman. Rasanya aku ga pengen pulang. Apalagi tempat ini pas lagi ga begitu ramai.
image

image

image

Siang itu aku sama mas Metra kompak memesan Lontong Cap Gomeh sebagai menu makan siang. Ini lontong cap gomeh pertama aku. Dan kayanya bakal ketagihan. Sementara minumannya aku memilih sarsaparilla float dan mas Met memesan cincau hijau kesukaannya (yang aku baru tahu). Plus memesan Pokeju sebagai cemilan tambahan 🙂

image

image

image

Ada yang menarik di Tjikini ini. Ada satu meja belajar antik dimana terdapat timbangan jaman dulu. Aku ga akan tahu itu timbangan kalau mas Met ga ngasih tahu. Katanya ibu mertua aku pakai timbangan seperti itu waktu mas Metra masih kecil. Wahhhh masih ada ga ya. Kalau ada mau minta ahhhhhh —> menantu ga tau diri 😀

image

image

Salam vintage

*** Sebelumnya pernah di posted di dianravi.wordpress.com 3 April 2013***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s