A Letter From… From Lasem With Love

DSC_1257

Hai GoodTravelers,

Di surat ini aku ingin menceritakan soal kunjungan ku ke Lasem beberapa bulan yang lalu. Lasem, sebuah kota kecamatan di Jawa Tengah itu berhasil membuat aku jatuh cinta hanya dalam hitungan jam.

Sore pertama aku tiba di Lasem, aku habiskan dengan berkeliling di desa Babagan dan desa Karangturi. Aku terperanjak. Tembok-tembok putih dengan pintu tua berjejer rapih, seolah membawa ku masuk ke lorong waktu. Mata ini ga bisa berhenti ingin terus mengabadikan tiap bangunan ke dalam frame foto. Hati ini ga sabar untuk segera bisa mengenal Lasem lebih dalam lagi. Namun aku masih harus bersabar menanti besok untuk dapat menjelajah Lasem lebih dekat lagi.

Mas Pop, nama pria yang menjadi guide selama di kota Lasem. Aku salut akan perjuangannya untuk bisa menjadikan Lasem sebagai Herritage City. Perkenalan ku sendiri dengan mas Pop melalui akun twitternya @lasemherritage.

Petualangan pertama ku di Lasem di mulai dari Klenteng Cu An Kiong. Klenteng ini merupakan klenteng yang tertua di Lasem, dipugar pada tahun 1838. Klenteng ini terletak di desa Soditan, tak jauh dari tepi sungai. Di desa inilah awalnya masyarakat Tionghoa mulai menetap di Lasem.

Dari Klenteng Cu An Kiong kami menuju Vihara Karunia Dharma yang terletak di belakang Cu An Kiong. The Abandon Vihara, begitu mas Pop menyebutnya. Karena memang sudah jarang orang bersembahyang disini. Di sini cuma ada Tante Widi dan keluarga nya yang setia mengabdi menjaga vihara ini. Vihara ini dulunya adalah rumah tinggal suami istri yang kemudian mewakafkan rumahnya untuk menjadi vihara dan meminta tante Widi untuk menjaganya. Tante Widi banyak bercerita tentang ‘penunggu’ yang ada di vihara itu. Bagaimana ia bisa bertahan untuk tetap tinggal tanpa diganggu oleh mahluk-mahluk yang tak kasat mata itu.

Lasem memang ga bisa dipisahin dari batik. Warna merah pada kain batik Lasem menjadi sejarah batik nusantara. Dari vihara aku diajak mas Pop mengunjungi kampung batik Lasem, desa Babagan. Dari pak Sigit, salah satu pengrajin batik di Lasem aku mendengarkan cerita bagaimana jaman dulu itu para saudagar batik dari Pekalongan sampai ke Lasem dengan berbekal kain mori untuk minta dibuatkan batik berwarna merah. Konon kandungan mineral pada air di Lasem yang menjadikan warna merahnya berbeda dari daerah lain. Pak Sigit ini merupakan salah satu penghuni di balik tembok-tembok putih yang kemarin sore aku lewati. Sigit Wicaksono, begitu tulisan yang tertera di atas pintu rumahnya Pria berusia 85 tahun ini dikenal sebagai pengusaha batik. Batik perpaduan tionghoa dan motif lawasan Lasem menjadi ciri khas nya. Tapi mengenal pak sigit bukan cuma mengenai batik, pak Sigit menceritakan bagaimana dirinya yang orang Tionghoa, menikahi wanita Jawa bergama Islam. Anak-anaknya pun ada yang Katolik maupun Islam. Dengan bangganya beliau bercerita “Cucu saya ada yang masuk pesantren dan pakai jilbab kaya Mbak loh.” Di mata pak Sigit agama adalah keyakinan tiap manusia terhadap Tuhan nya masing-masing. Sesama manusia harus rukun, tak peduli agama apa pun yang diyakini.

Menjelang siang mas Pop mengajak aku mengunjungi sebuah rumah bergaya cina kuno. Rumah Opa Oma, kata mas Pop. Opa yang usianya tak jauh dari Pak Sigit menyambut aku depan pintu, tempat ‘nongkrong’ favoritnya. “Cari angin,” begitu kata Opa. Rasa pilu serentak memasuki kalbu ku begitu melihat Opa berjalan merangkak menaiki anak tangga kala masuk ke dalam rumah. Berbeda dengan rumah pak Sigit yang tampak berada, rumah Opa tampak ‘seadanya’. Teras rumah lebar dihiasi dengan kursi tua, rumah panggung sebagai ruang utama dimana ada meja altar untuk mengingat leluhur, ranjang tua dimana Opa dan Oma berisitirahat di malam hari, serta dapur dan teras di bagian belakang rumah. Rumah ini hanya dihuni oleh oma, opa, dan mba Minuk, asisten rumah tangga yang sudah mengabdi cukup lama. Oma dan Opa bukanlah suami istri, melainkan saudara sepupu. Sehari-hari Oma hanya duduk di teras belakang. “Dari jam 8 pagi hingga 8 malam,” mas Pop menjelaskan. Hal ini karena Oma udah sulit untuk bergerak. Oma menyunggingkan senyum manis kala aku menyapa. Kemudian dia pun menceritakan pengalaman-pengalaman hidupnya berulang-ulang. Kata mas Pop, Oma pernah punya pengalaman traumatis, sehingga hal itu yang terus menerus diingatnya. Tak terasa matahari sudah cukup tinggi. Saatnya aku pamit.

Lasem bukan sekedar kota tua atau pun kota yang memiliki sejarah batik. Lasem mengajarkan banyak hal padaku. Dari tante Widi dan Opa aku belajar arti keikhlasan. Hidup di bawah garis kemiskinan tidak menghalangi mereka untuk tetap merasa bahagia. Tante Widi tetap menjalankan kesehariannya untuk terus menjaga vihara sebagaimana dia dulu diminta oleh mantan pemilik rumah tersebut meski kini tak ada lagi yang menggajinnya. Opa tetap siap tersenyum ramah menyambut tamu yang datang berkunjung, menceritakan masa lalu nya seperti seorang kakek yang tengah bercerita pada cucu-cucunya, seolah kami sudah mengenal lama. Dari pak Sigit aku belajar bahwa kerukunan antar umat beragama harus dilakukan dari diri sendiri. Lasem bak memiliki banyak kisah yang minta diungkap. Hal yang hanya terjadi karena kekayaan usia. Namum Lasem juga memiliki ancaman kepunahan karena kurangnya generasi penerus. Bukan hanya kota tua, tapi memang generasi muda di Lasem lebih memilih untuk merantau.

Semoga keindahan Lasem tak akan berubah. Dan semoga aku masih punya kesempatan untuk berkunjung kembali.

Salam dari Lasem,

@DianRavi

*** my submission for The Good Traveler, a letter from***

6 Comments

  1. Pingback: A Letter From… From Lasem With Love | rembangraya.com

  2. Pingback: A Letter From… From Lasem With Love | pengabdian masyarakat rembangpengabdian masyarakat rembang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s