Panggilan Mesra Para Pedagang

Sekitar beberapa minggu yang lalu, aku bersama seorang sahabat dan seorang sepupu mendatangi sebuah kawasan perbelanjaan di Jakarta Utara yang sebut saja namanya Mangga Dua (yahhh itu mah nama sebenarnya ya, bukan alias). Lagi asik-asik berbelanja, tawar menawar, akhirnya kami bertiga terusik oleh sebuah panggilan yang mesra banget dari salah seorang pedagang. “Boleh, Sayang….. Kalau Sayang beli nya 3 nanti aku kasih harga grosir deh….Aku jualan via online juga kok, Sayang nanti add pin aku aja, nanti biar aku kirim deh…”

Dalam hati pun aku berkomentar “Busettttt, baru ketemu udah sayang-sayangan. Aku sama mas Met aja baru berani manggil Sayang setelah 3 tahun nikah.”

Dan ternyata bukan cuma aku aja yang jengah. Sepupu dan temen ku pun ngerasa panggilan itu begitu annoying. Kemudian akhirnya kita pun jadi ngerumpi panggilan-panggilan mesra dari pedagang, khususnya online shop. Tau dong dimulai dari Sis, Bro, Gan, dan ternyata Say pun mulai marak.

Sampai setahun yang lalu aku masih menolak memanggil “Sis” kepada para pedagang online. Sempet ada satu OS yang merhatiin banget kalau aku selalu menyapa dia dengan “mba” tiap dia menyapa aku dengan “sis” akhirnya bertanya, “ga suka ya dengan panggilan sis?”. Dan jujur aku sampaikan bahwa aku ngerasa risih dengan panggilan itu. Kok kaya abg abg gimanaaaaa gitu rasanya.

Dan seiring waktu akhirnya aku pun ikutan memanggil “sis” tiap belanja online. Tapi aku masih tetep berusaha memanggil “mba” dan “mas” kepada customer-customer aku sendiri.

Itu panggilan sis/bro. Kalau dipanggil say/sayang???? Sumpah masih eneg banget rasanya. Emang iya gitu mereka sayang sama aku?

Hari ini disebuah akun IG ada yang curhat mengenai ditegur customer karena dirasa lebay dipanggil “sayang”. (tuhhh kan bukan cuma aku aja yang jengah buktinya) Alasan si OS katanya biar berasa lebih dekat, lebih akrab. Hmmm iya gitu berasa lebih akrab?

Entahlah. Mungkin karena aku besar di era dimana panggilan sayang itu hanya untuk orang istimewa, ga obral cinta, jadi ya malah risih dipanggil begitu. Ya itu tadi, untuk manggil mas Met “ayank” kaya sekarang pun dibutuhkan waktu 3 tahun menikah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s